Kamis, 10 Juni 2010

MATA-MATA

Remahan 1: Mata sayu itu.....

Mata itu sayu. Melihatku sayu. Sesekali melotot membuat otot matanya kejang, membuat akomodasi syarafnya meningkat. Memastikan ada sesuatu yang ganjil pada diriku. Mata itu sayu. Mata itu menatapku sayu. Aku menghindar darinya, menghindar dari mata yang menatapku sayu. Aku menunduk, lalu mengedarkan pandangan ke ruangan 0,5x0,5 m itu. Dan kutemukan mata itu lagi, lekat memandangiku. Lekat dan semakin lekat, seperti ada sesuatu hitam melingkari mata itu, ya sesuatu yang hitam. Aku menatapnya dalam, menatap dalam mata sayu itu dan diapun begitu. Mata sayu itu semakin mendekatiku, aku mengenalnya, Oh aku mengenalnya, aku mengenal mata sayu itu.

Mungkin 5 tahun yang lalu, aku ingat, aku ingat mata sayu itu. 5 tahun lalu mata itu berseri, mata itu indah, mata itu tajam menghujam siapapun yang dia benci, mata itu bersih dan lebar. Ah aku jadi ingat aku paling suka mata lebar, aku merasa seorang perempuan bermata lebar adalah cantik dan aku melihat kecantikan dari mata itu. Mata itu menyeringai bahagia atas setiap kemenangannya. Mata itu tak pernah mau memandang mata seseorang yang menjajah hatinya. Mata itu malu, mata itu tersenyum karena sungging bibirnya.

Sayangnya mata itu selalu jujur. Tak dapat menutupi apapun yang ada pada syarafnya. Yang mengikuti perasaannya bagai kerbau dicucuk. Mata itu buncah oleh air. Mata itu memandangku dengan sayu, mata itu menggoreskan pedih yang amat, mata itu mataku.

Remahan 2: Nyanyian anak kecil...

Pernahkah kau merasakan akumulasi kebencian yang berubah menjadi sebuah rasa yang aneh? Ah aku malu mengatakannya tapi kenapa mata ini tak pernah malu, mata ini selalu jujur mengatakan. Aku mencintainya.

Manifestasi rasa benci ini menggunung. Mendebarkan sebuah rasa dalam hatiku. Pernah aku mendapat kartu kuning karena keberanianku menonjok anak ketua yayasan yang memberikan beasiswa padaku hanya karena -oh bukan hanya karena, karena alasan ini begitu penting bagiku untuk menonjok mata kirinya itu- dia mengatakan aku 'ANAK ORANG GILA'. Dentuman meriam bergemuruh di dadaku. Mereka mengarakku sepanjang jalan dengan mengatakan bahwa ibuku gila. Aku mendekap nenekku (aku hanya bisa bercerita padanya, karena aku mulai tau perangai Ibu yang sudah berubah. Ya. Ibuku aneh). Aku terdiam di bibir sungai. Waktu itu aku 6 tahun. Aku sesenggukan. Aku belum tahu apa dosanya bunuh diri itu. Aku memegang pisau dan meletakkannya tepat hendak menghujam nadiku. Tiba-tiba aku mendengar seorang anak laki-laki bernyanyi. Nyanyian anak kecil walaupun aku merasa lagu itu lagu orang dewasa yang sedang patah hati.

Dia berdiri di depanku tepat saat aku akan menggerakkan pisau itu masih dengan mata kiri yang biru.
'Maaf aku salah? Tidak seharusnya mengatai ibumu', ucapnya. Seorang anak ketua yayasan yang sok berkuasa di sekolah itu meminta maaf padaku setelah aku tonjok matanya. Ah terlalu banyak kenangan tentang MATA.
'Ayolah maafkan.' rayunya.
'Kalau kau memaafkanku, aku berjanji akan menjagamu selamanya supaya tidak ada yang mengatai ibumu lagi' katanya sambil mengangkat telunjuk dan jari tengahnya.
'Kau juga boleh menangis di bahuku sekarang', imbuhnya.
Romansa masa kecilku, manifestasi benciku. Nyanyian itu terus disenandungkan olehnya. Mata itu -mataku- begitu berbinar saat itu.

Belakangan aku tahu kenapa dia begitu ingin mendapatkan maafku saat itu, karena ayahnya tidak akan memberikannya uang jajan yang dibanggakannya itu kalau aku tidak memaafkannya, ya, setelah menelisik ternyata ayahnya menjadikan dia terdakwa dalam masalah ini. Dia menganggap ucapan anaknya itu keterlaluan dan perlakuanku adalah sebuah pembelaan diri.

Sebenarnya, benci itu bukan hanya karena dia berani mengatai ibuku gila tapi juga persaingan nilai kami. Sebagai anak ketua yayasan yang seharusnya mendapat juara umum, anak itu membenciku karena aku selalu ada pada tempat itu. Kemampuanku memang pantas diandalkan hingga jebol Olimpiade Fisika sampai tingkat Nasional. Prestasi yang selalu nenekku banggakan, hanya nenekku yang membanggakannya dengan seluruh cuap-cuapnya ke tetangga. Tak peduli kata orang "Anak orang gila, cucu janda miskin menjadi juara Olimpiade? Fisika? Apanya yang membanggakan??"

Nenekku menganggap hal itu lebih karena mereka tidak paham apa fisika, apa olimpiade.

Benci itu terakumulasi penuh setelah dia mengatai Ibuku Gila. Aku membenci anak itu. Benar-benar manifestasi benci yang kubenci sampai saat di bibir sungai itu, akumulasi benci itu berubah menjadi rasa yang aneh. CINTA. Aku merasa gombalannya yang ingin menjagaku adalah sebuah harapan yang terpendar, dan nyanyiannya, nyanyiannya membuatku tenang terlindungi.

Mengenai Saya

Foto saya
i love my mom very much...^_^